Minggu, 22 Juli 2012

JURNAL PENELITIAN


Jurnal Penelitian

PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR MENGGUNAKAN HYPNOTEACHING DAN PENDEKATAN CTL PADA POKOK BAHASAN PECAHAN  DI KELAS VII SMP NEGERI 27 MEDAN TAHUN AJARAN 2011/2012





Oleh :
S U W A N T O
NIM. 071244110090




FMIPA
















JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2012







PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR MENGGUNAKAN HYPNOTEACHING DAN CTL PADA POKOK BAHASAN PECAHAN DI KELAS VII SMP NEGERI 27 MEDAN TAHUN AJARAN 2011/2012

Suwanto
Wamington Rajagukguk

ABSTRAK

Tujuan Peneletian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan dengan metode hypnoteaching dan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)  pada pokok pembahasan penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas VII SMP Negeri 27 Medan tahun ajaran 2011/2012.
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel dua kelas yaitu kelas VIII-4 sebagai kelas eksperimen Contextual Teaching and Learning dan kelas VII-6 sebagai kelas eksperimen Hypnoteaching yang masing-masing berjumlah 37 dan 38 siswa. Penelitian ini menggunakan metode pembelajaran Hypnoteaching dan Pendekatan Contextual Teaching and Learning. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data adalah tes dan lembar observasi. Tes digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Tes yang digunakan dibagi menjadi dua tahap yaitu pre test yang digunakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan post test untuk mengetahui perbedaan dari masing-masing kelas eksperimen. Sedangkan observasi digunakan untuk melihat aktivitas siswa pada saat pembelajaran berlangsung baik hypnoteaching maupun CTL.
Berdasarkan hasil penelitian pada tahap pre test nilai rata-rata kelas eksperimen 1 49,54 lebih rendah dari pada nilai rata-rata kelas ekperimen 2 56,31. Setelah dilakukan uji homogenitas pada data pre test kedua kelas ekperimen dinyatakan kedua data tersebut homogen. Kemudian pada tahap post test diperoleh nilai rata-rata kelas ekperimen 1 79,84 lebih tinggi dari pada nilai rata-rata kelas ekperimen 2 74,25, dengan kata lain kedua kelas mengalami peningkatan. Kemudian untuk mengetahui perbedaan dari kedua kelas ekperimen maka dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji t dan diperoleh thitung = 2,384, sedangkan ttabel untuk taraf signifikan (α=0,05) dan dk =71 adalah 1,666, dengan kata lain thitung>ttabel sehingga H1 diterima.Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan hypnoteaching lebih tinggi dari pada siswa yang diajarkan dengan menggunkan pendekatan CTL.
Dengan melihat kesimpulan penelitian ini, pada saat pembelajaran, kita dapat menjadikan  metode hypnoteaching menjadi pilihan utama jika dibandingkan dengan pendekatan CTL pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan  bilangan pecahan. Hal ini bertujuan agar proses pembelajaran lebih efektif dan tujuan pembelajaran tercapai demi peningkatan prestasi siswa.


Kata Kunci : Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa, Pendekatan CTL, Hypnoteaching

I.       Pendahuluan

Saat ini, kita sering menjumpai kondisi sekolah yang belum memenuhi kriteria yang memenuhi standar nasional. Menurut data Kemdiknas tahun 2008 dalam http://bataviase.co.id/node/627085 menjelaskan bahwa masih ada sekitar 161 ribu bangunan sekolah rusak di seluruh Indonesia yang belum tertangani. Dari jumlah itu, 45% di antaranya rusak berat dengan sudut kemiringan mendekati 90 derajat alias hampir roboh. Keadaan gedung yang memprihatinkan ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi belajar hal ini dijelaskan oleh Slameto (2003:64) dalam bukunya
“faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung dan tugas rumah”

Keadaan sekolah yang tidak memadai, seperti kurangnya sistem pencahayaan, kondisi atap yang bocor, aroma bau tak sedap dari kamar mandi dan lain-lain, tentu saja hal ini akan mengganggu kenyaman siswa ketika belajar. Ketidaknyaman ini akan menyebabkan siswa berkesulitan untuk berkonsentasi ketika belajar dan pada akhirnya akan berdampak negatif pada hasil belajar mereka. Hal ini diperjelas oleh Aunurrahman (2009:181) ”Kesulitan berkonsentrasi merupakan indikator adanya masalah belajar yang dihadapi siswa, karena hal itu akan menjadi kendala dalam mencapai hasil belajar yang diharapkan”
Dengan kondisi seperti ini, bagaimana jika mereka dihadapkan dengan mata pelajaran yang membutuhkan konsentrasi yang lebih, seperti mata pelajaran matematika,  tentunya akan mempengaruhi pada keberhasialan siswa di sekolah. Menurut Su Sie Han & Suse Herleni (dalam http://www.carisuster.com/artikel) ”masalah ketidakberhasilan siswa di sekolah, terutama dalam pelajaran yang memerlukan konsentrasi tinggi seperti matematika”. Selain mata pelajaran yang membutuhkan konsentrasi yang tinggi matematika juga merupakan pelajaran yang sulit sebagaimana diungkapkan oleh Abdurrahman (2004:2) “Matematika merupakan bidang studi yang dianggap sulit untuk dipelajari”. Makanya tidak heran siswa mengeluh ketika mengerjakan pekerjaan rumah mereka dan berujung pada mencontoh pekerjaan temannya atau minta dikerjakan oleh orang lain tanpa mau tahu cara mengerjakannya. Bukan hanya ini saja faktor yang menyebabkan hasil belajar matematika siswa rendah masih banyak lagi faktor yang lain.
Rendahnya tingkat kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu faktor yang menyebabkan hasil belajar matematika siswa rendah, karena matematika sangat erat kaitannya dengan tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Hal tersebut dijelaskan oleh Tumadi (2008:29)  Problem solving (pemecahan masalah) dalam pembelajaran matematika merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam pembelajaran matematika”. Kemudian Loretta Ohnemus Omaha, Nebraska (dalam jurnalnya 2010:5) menegaskan “Problem solving is an essential part of mathematics, yet many students spend much of their mathematics career copying and reproducing algorithms”. Yang artinya pemecahan masalah adalah bagian yang terpenting dalam Matematika, tetapi masih banyak pelajar yang mencontek dan memproduksi algoritma dalam pelajaran matematika mereka.
Dengan demikian, kemampuan pemecahan masalah sangat penting untuk dikuasai oleh siswa, hal senada juga dikemukakan oleh Parkey (dalam Aunurrahman, 2009:107):
“menghadapai tantangan masa depan, siswa akan membutuhkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai di sembilan area kunci yaitu ; (a) kemampuan berbahasa, matematika dan sain, (b) keterampilan teknologi baru, (c) kemampuan pemecahan masalah, pikiran kritis dan kreativitas, (d) kesadaran social, keterampilan berkomunikasi dan membangun sinergis kelompok, (e) kesadaran global dan keterampilan kenservasi, (f) pendidikan kesehatan dan kesejahteraan, (g) orientasi moral dan etika, (h) kesadaran estetika, (i) pendidikan seumur hidup untuk kemandirian belajar”

Tetapi hal ini bertolak belakang dengan yang diharapkan, setelah dilakukan studi awal pada tanggal 2 Mei  2011 di SMP Negeri 27 Medan, Jln. Pancing Pasar IV, No 2  Medan, peneliti melakukan wawancara kepada guru matematika yang bernama Dra. Mariyati dan memberikan soal yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan pecahan kepada kelas VII2 yang berjumlah 35 siswa. Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa masih digolongkan sangat rendah, hal ini tampak dari jawaban dan nilai mereka yang tidak melebihi dari angka 60 sebagai nilai KKM. Diyakini hal ini terjadi karena sebagian besar siswa kesulitan memahami soal  matematika dalam bentuk cerita, hal ini dipaparkan oleh seorang guru matematika yang mengajar di SMP Negeri 27 Medan saat diwawancarai “pemahaman siswa terhadap soal cerita, mereka perlu dibantu untuk menentukan pemecahan masalah, tanpa bantuan sebagian besar kesulitan menemukan pemecahan masalah sendiri”.
Pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan merupakan materi yang membingungkan dan memusingkan. ”saya kesusahan mengerjakan soal penjumlahan dan pengurangan pecahan, abis membingungkan. Ada pembilang ada penyebut, pusinglah bang!”. Inila keluhan Fahmi Idris seorang siswa kelas VII2 SMP Negeri 27 Medan tentang materi pecahan. Menurut Edy Pranoto dalam http://duniabaca.com/wp-content/uploads/2011/03/referensi-skripsi-matematika.pdf menekankan bahwa ”Matematika berangkat dari hal-hal yang abstrak sehingga sulit diterima dan dipahami oleh siswa, termasuk di dalamnya pada sub pokok bahasan pengerjaan operasi hitung pecahan.”
Berdasarkan masalah-masalah yang dihadapi siswa diatas peniliti ingin mengatasi problema ini yaitu dengan cara mengganti metode mengajar. Karena dengan menggunakan metode mengajar yang tepat akan berpangaruh besar pada hasil belajar siswa. Sebagaimana diungkapkan oleh Slameto (2003:65) mengungkapkan bahwa:

“Metode mengajar guru yang kurang baik diakibatkan karena guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut menyajikannya tidak jelas atau sikap guru terhadap siswa atau mata pelajaran itu sendiri tidak baik, sehingga siswa kurang senang terhadap pelajaran atau gurunya, akibatnya siswa malas untuk belajar dan mencatat materi pelajaran yang sedang dipelajari”.

Menurut H.W. Fowler dalam Masnur Muslich (2008:221)  bahwa ”matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak sehingga dituntun kemampuan guru untuk mengupayakan metode yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa.” Kenyataannya masih banyak model pembelajaran yang digunakan guru cenderung monoton yang mengakibatkan siswa pasif. Sehingga siswa merasa jenuh dan bosan yang menyebabkan pencapaian hasil belajar tidak optimal. Hadi dalam (http://www.sman1-labakkang.com) menyatakan bahwa:

”Beberapa hal yang menjadi ciri praktik pendidikan di Indonesia selama ini adalah pembelajaran berpusat pada guru. Guru menyampaikan pelajaran dengan menggunakan metode ceramah atau ekspositori sementara siswa mencatatnya pada buku catatan.”

Kemudian dilanjutkan oleh Sobel dan Meletsky dalam dalam Masnur Muslich (2008:221) mengemukakan
”Banyak sekali guru matematika yang menggunakan waktu pelajaran dengan kegiatan membahas tugas-tugas lalu, memberi pelajaran baru, memberi tugas kepada siswa. Pembelajaran seperti di atas rutin dilakukan hampir setiap hari dapat dikategorian sebagai 3M, yaitu membosankan, membahayakan dan merusak minat seluruh siswa”

Oleh karena itu, dalam penelitian ini metode yang akan digunakan adalah motode Hypnoteaching dan pendekatan  pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Disamping itu peneliti ingin mengetahui dari kedua cara penyampaian ini, cara yang mana yang lebih baik atau efektif. Dilihat sekilas dari komponennya atau dari segi karakteristiknya kedua metode ini hampir sama, hanya saja penamaannya yang berbeda. Tetapi jika dikaji lebih dalam lagi ada hal yang menarik yang membedakan kedua metode pembelajaran ini.
Metode Hypnoteaching ini merupakan pengembangan dari teknik hipnosis. Menurut Novian (2010:5) Hipnosis adalah suatu kondisi dimana perhatian menjadi sangat terpusat sehingga tingkat sugestibilitas (daya terima saran) meningkat sangat tinggi. metode ini menekankan pada kekuatan konsentrasi, kekuatan pikiran bawah sadar siswa dan persepsi siswa terhadap matematika sehingga pembelajaran terasa mengasikkan bagi siswa dan memudahkan guru untuk mentransfer informasi yang baru. Menurut Aris Setyawan (dalam mudul seminarnya:2011) mengemukakan “Hypnoteaching adalah sebuah metode pengajaran yang menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar yang menimbulkan segesti siswa untuk terkonsentrasi siswa secara penuh pada ilmu yang disampaikan oleh guru”
Hipnoteaching yang merupakan perpaduan antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar sehingga dapat mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri siswa. Metode pengajaran ini sangat mendukung sekali dalam membimbing siswa untuk memecahkan masalah. Karena perpaduan antara otak kanan dan otak kiri akan membuat sambungan-sambungan sinyal di dalam otak. Andri saleh (2009:29) menyatakan bahwa semakin banyak jalur sambungan yang dibuat, semakin besar pula kemampuan manusia untuk memecahkan masalah. Dari penyataan ini bahwa metode pemelajaran hypnoteaching dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa.
Sedangkan pendekatan Contextual Teaching and Learning merupakan pembelajaran yang menekankan konsep-konsep materi ajar berdasarkan hal-hal yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga proses pembelajaran akan lebih berarti dan menyenangkan bagi siswa. Trianto (2008:21)  mengemukakan
“Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah dan pengetahuan. Melalui hubungan di dalam dan di luar kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relavan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan  yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup”

Pendekatan yang mempunyai tujuh komponen ini dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, hal ini sudah dibuktikan dalam peneltian sebelumnya yang dilakukan oleh Turian Husagian (053111355) dalam skripsinya. Selain itu inkuiri yang merupakan salah satu komponen dari dari Contextual Teahcing and Learning (CTL) mempunyai langkah-langkah sebagai berikut, yaitu: (a) merumuskan masalah, (b) mengajukan hipotesis, (c) mengumpulkan data, (d) menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan, dan (e) membuat kesimpulan (Sanjaya, 2008:119). Langkah-langkah tersbut tidak jauh beda dengan langkah-langkah pada kemampuan pemecahan masalah yang dikemukakan oleh Aunurrahman (2009:108) yaitu (a) mengidentifikasi masalah, (b) memikirkan alternative pemecahan, (c) memebandingkan alternative-alternatif pemecahan yang mungkin akan dipilih, (d) menentukan pemecahan yang terbaik.
Tetapi disamping kelebihan-kelebihan di atas ada beberapa kekurangan dari pendekatan CTL, Menurut Arif Luqman Nadirin dalam http://nadhirin.blogspot.com/2010/03/ model - pembelajaran -contextual-teaching. html menjelaskan
”Kekurangan dari metode Contextual Teaching and Learning yaitu :
1.   Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
2.   Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.”



II.    Metode Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VII semester ganjil SMP Negeri 27 Medan yang terdiri dari 8 kelas dengan jumlah kelas seluruhnya 320 orang, yang mengikuti kegiatan belajar mengajar penjumlahan dan pengurangan pecahan. Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak dua kelas, sample penelitian ini ditentukan secara sample random dari 8 kelas.
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu, sebab semua kondisi siswa tidak dapat dikontrol secara keseluruhan. Sample dalam penelitian ini dikelompokkan dalam dua kelompok, kelas pertama sebagai kelas eksperimen pertama yang diajarkan dengan metode pembelajaran hypnoteaching dan kelas kedua sebagai kelas eksperimen kedua yang diajarkan dengan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning  (CTL).
Penelitian ini menggunakan dua kelas sebagai subjek penelitian yang diambil dari populasinya secara acak. Kelas pertama danamakan kelas eksperimen satu dan kelas kedua dinamakan dengan kelas eksperimen kedua. Sebelum kedua kelas diberi perlakuan maka terlebih dahulu kedua kelas diberikan tes (pre test). Terhadap kelas eksperimen petama diberikan perlakuan dengan metode pembelajaran hypnoteaching dan kelas eksperimen kedua diberikan perlakuan dengan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning, dan waktu tertentu kedua kelompok diberikan tes (post test)

Tabel 3.1 Tabel Rancangan Eksperimen
Kelas
Pre test
Perlakuan
Post test
Kelas eksperimen 1
Ta
X1
Tb
Kelas eksperimen 2
Ta
X2
Tb

Keterangan :    Ta         =          Pemberian pre test
                        X1        =          Metode Pembelajaran hypnoteaching
                        X2        =          Model Pembelajaran CTL
                        Tb         =          Pemberian post test

Instrumen penelitian atau pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa pre test dan post test. Pre test diberikan kepada objek penelitian sebelum dilakukan perlakuan. Pre test bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan sebagai dasar untuk pengelompokkan secara heterogen dalam pembelajaran.
Post test merupakan test yang diberikan kepada objek penelitian setelah dilakukan perlakuan X1 dan X2. Post test bertujuan untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah matematika objek penelitian. Dalam penelitian ini bentuk soal pre test maupun post test adalah essay sebanyak lima soal dan disusun sesuai dengan kurikulum dan tujuan pengajaran yang telah ditentukan.
Sebelum diujikan kepada sample, peneliti terlebih dahulu diujicobakan test untuk melihat validitas, reabilitas, tingkat kesukaran soal dan daya pembeda soal. Soal diujicobakan kepada kelas VII SMP 27 Medan. Selain itu Uji kevalitan soal.
Untuk menguji validitas item soal, digunakan rumus korelasi product moment (Arikunto 2003:72) dengan rumus :
   Untuk menafsirkan kebersihan harga validitas setiap soal maka harga tesebut dikonsultasikan ke tabel harga kritik r product moment, dengan kriteria rhitung > rtabel untuk taraf nyata dengan a = 0.05 maka korelasi tersebut dikatakan valid.
Karena test yang digunakan berbentuk uraian maka untuk mengetahui reabilitas test digunakan rumus Alpha. (Arikunto 2003:196) yaitu :
 =
Untuk koefisien reabilitas test selanjutnya dikonformasikan k rtabel product moment a = 0.05. jika rxy > rtabel, maka test dinyatakan reliabilitas.

Adapun rumus untuk mencari tingkat kesukaran soal adalah :
P = , (Arikunto 2003:208)
Untuk menentukan daya pembeda masing-masing item test digunakan rumus (Arikunto 2003:213) yaitu :
D =
Dalam teknik analisis data, data yang diperoleh dari masing-masing kelas terlebih dahulu dibuat dalam tabel persiapan, temudian ditentukan nilai rata-rata hitung dan standar deviasi. Untuk menentukan nilai rata-rata hitung dapat digunakan rumus =, sedangkan deviasi dengan rumus :
Uji normalitas diadakan untuk mengetahui normal atau tidaknya populasi penelitian tiap variabel penelitian. Pengujian ini digunakan dengan uji liliefors.
Untuk menguji kedua kelas homogen untuk itu dirumuskan hipotesis sebagai barikut.
H0 :  ; H1 :
Rumus yang digunakan adalah Fh =
Dengan kriteria pengujian :
Jika Fhitung ³ Ftabel, maka H0 ditolak dan jika Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima, dengan a = 0.05.

Hipotesis yang diuji (Sudjana,2002) adalah
H0 : m1=m2  :     Tidak ada perbedaan kemampauan pemecahan masalah siswa yang diajarkan menggunakan hypnoteaching dengan kemampuan pemecahaan masalah siswa yang diajarkan menggunakan Contextual Teaching and Learning
Ha : m1¹m2          Ada perbedaan kemampauan pemecahan masalah siswa yang diajarkan menggunakan hypnoteaching dengan kemampuan pemecahaan masalah siswa yang diajarkan menggunakan Contextual Teaching and Learning

Karena kedua data berasal dari populasi yang sama atau homogen, dimana s12 = s22, maka untuk menguji hipotesis digunakan uji t (Sudjana,2002) dengan rumus :
 dengan
Kriterianya adalah H0 diterima jika thitung < t(1-a) dan H0 ditolak jika thitung ³ t(1-a)

III.  Hasil Penelitian dan Pembahasan

hasil perhitungan pre test dan post test kemampuan pemecahan masalah matematika siswa di atas terlihat perbedaan rata-rata pre test dan post test kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2. Secara ringkas nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kedua kelas baik pre test maupun post test dapat dilihat pada Tabel 4.5 dan dalam bentuk diagram pada gambar 4.1 berikut.




Tabel 4.3 Rata-Rata Pre Test dan Post Test Siswa
Keterangan
Kelas Eksperimen 1
Kelas eksperimen 2
Pre test
Post test
Pre test
Post test
Jumlah nilai
1783.562
3033.766
2083.562
2598.701
Rata-rata
49.543
79.836
56.312
74.249

Gambar 4.1. Rata-Rata Pre Test dan Post Test Siswa


Secara deskriptif ada beberapa kesimpulan yang berkenaan dengan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang dapat diungkap dari Tabel 4.5 dan Gambar 4.1 di atas, yaitu :
a.       Rata-rata pre test kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas eksperimen 1 (49.543) lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pre test kemampuan pemecagan masalah matematika siswa kelas eksperimen 2 (56.312) atau pre test kelas eksperimen 1 < pre test kelas eksperimen 2.
b.      Rata-rata post test kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas eksperimen 1 (79.836) lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata post test kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas eksperimen 2 (74.249) atau post test kelas eksperimen 1 > post test kelas eksperimen 2.
Selisih rata-rata pre test kemampuan pemecahan masalah matematika antara kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 sebesar -6,7691 dan selisih rata-rata post test kemampuan pemecahan masalah matematika siswa antara kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 sebesar 5,5873.
 Uji normalitas data pre test kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas eksperimen 1 diperoleh L0 (0,1207) < Ltabel (0,1477) dan data pre test kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas eksperimen 2 diperoleh L0 (0,0916) < Ltabel (0,1477). Sedangkan pada data post test kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada kelas eksperimen 1 diperoleh L0 (0,0534)z < Ltabel (0,1437) dan data post test kemampuan pemecahan masalah matematika siswa di kelas eksperimen 2 diperoleh L0 (0,1087) < Ltabel (0,1498). Dengan demikian dapat disimpulkan data kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran Contextual Teaching and Learning dan metode pembelajaran Hypnoteaching baik data pre test maupun data post test berdistribusi normal.
Pengujian homogenitas data dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan dalam penelitian berasal dari populasi yang homogen atau tidak, tujuannya apakah sampel yang dipilih dapat mewakili seluruh populasi yang ada, dan uji ini sebagai syarat keabsahan data untuk melakukan uji selanjutnya yaitu uji hipotesis. Uji homogenitas hanya dilakukan pada kemampuan awal siswa yaitu pada hasil pre test siswa, hal ini bertujuan untuk menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan awal siswa atau dengan kata lain kemampuan awal di kedua kelas sama.
Untuk pengujian homogenitas digunakan uji kesamaan kedua varians yaitu uji F. Jika Fhitung ≥ Ftabel  maka H0 ditolak dan jika Fhitung < Ftabel  maka H0 diterima. Dengan derajat kebebasan pembilang = (n1 – 1 ) dan derajat kebebasan penyebut = (n2 – 1 ) dengan taraf nyata α = 0,05. Berdasarkan perhitungan maka di dapat Fhitung = 1,1834 sedang Ftabel untuk  α = 0,05 dan dkpembilang = 36 dan dkpenyebut = 37 adalah 1,792.  sehingga diperoleh Fhitung<Ftabel  maka H0 di terima. Ringkasan hasil perhitungan uji homogenitas disajikan pada tabel berikut:
Kemuadian untuk mengetahui signifikansi kesimpulan di atas perlu dilakukan perhitungan pengujian statistik. Untuk menguji perbedaan rata-rata kedua kelas, digunakan uji t. Deskripsi hasil analisisnya disajikan pada sub bab berikut ini.
Setelah kedua kelas yaitu kelas ekperimen 1 dan kelas eksperimen 2 berdistribusi normal dan homogen, maka dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan statistik uji t. Dari pengujian hipotesis kemampuan pemecahan masalah matematika siswa diperoleh thitung > ttabel, yaitu 2,384 > 1,666 maka H0 ditolak dan H1 ­diterima. Secara ringkas hasil pengujian hipotesis kemampuan pemecahan masalah matematika siswa disajikan pada Tabel 4.10 berikut.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan dengan metode hypnoteaching berbeda dengan rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajarkan dengan metode Contexual Teaching and Learning.
Dalam penelitian digunakan dua model pembelajaran yang berbeda yaitu metode pembelajaran Hypnoteaching dan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning. Pembelajaran hypnoteaching dilaksanakan di kelas VII-6 (kelas eksperimen 1),            sedangkan pembelajaran Contextual Teaching and Learning dilaksanakan di kelas VII-4 (kelas eksperimen 2) dan masing-masing kelas terdiri dari 38 siswa untuk kelas eksperimen 1 dan 37 siswa untuk kelas eksperimen 2.
Perbedaan model pembelajaran hypnoteaching dan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang paling mendasar adalah pembelajaran hypnoteaching lebih menekankan pada kekuatan pikiran siswa atau konsentrasi siswa ketika belajar.   Guru berusaha membangkitkan rasa ingin tahu siswa dengan analogikan contoh materi yang diberikan yang dapat memicu memori siswa. Untuk memusatkan pikiran siswa agar berada dalam kondisi sugestif (mudah menerima saran, masukan, informasi, dan pengetahuan), selama proses pembelajaran berlangsung siswa diawasi lebih intensif melalui jam emosi. Hal yang bertujuan agar emosi siswa berada dalam kondisi emosi yang sama. Kemudian pemberian reward yang diberikan kepada siswa yang dapat menjawab pertanyaan dan tanggapan sedangkan penalty yang diberikan kepada siswa yang ribut atau mengganggu temannya. Sedangkan pada pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih menekankan pada pengalaman-penagalaman siswa, diharapkan dengan pengalaman tersebut pembelajaran dalam kelas lebih berkesan dan bermakna bagi siswa sehingga ingatan mereka tentang materi tersebut lebih lama melekat di benak mereka. Pembelajaran ini berangkat dari hal-hal yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari mereka tujuan untuk memotivasi siswa dalam mengikuti pembelaran.
Sebelum diberikan pembelajaran atau tindakan yang berbeda kepada masing-masing kelas eksperimen, terlebih dahulu dilakukan pre test (tes awal) untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan sebagai dasar dalam pembentukan kelompok belajar. Dari hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata pre test siswa kelas eksperimen I adalah 49,54 dan nilai rata-rata pre test siswa kelas eksperimen II adalah 56,31. Berdasarkan nilai pre test dilakukan pengujian normalitas dan homogenitas. Setelah dilakukan pengujian ternyata kedua kelas berdistribusi normal dan homogen.
Setelah diketahui kemampuan awal siswa, kemudian dilakukan pembelajaran dengan dua model pembelajaran yang berbeda. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, dua orang observer mengamati keterlaksanaan model pembelajaran hypnoteaching dan pembelajaran Contextual Teaching and Learning dengan sintaks pembelajarannya.
Setelah semua materi selesai diajarkan, siswa diberikan post test (tes akhir) untuk mengetahui bagaimana hasil belajar siswa pada kedua kelas setelah dilakukan perlakuan. Dari hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata post test kelas eksperimen I adalah 79,85 dan nilai rata-rata post test kelas eksperimen II adalah 74,25.
Kemudian dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji-t. Setelah dilakukan pengujian data ternyata diperoleh thitung > t tabel atau 2,384>1,666 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian terdapat pebedaan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan menggunakan Contextual Teaching and Learning  dan yang diajar dengan hypnoteaching.
Hasil dari pengujian hipotesis tentu saja berkaitan dengan perlakuan yang diberikan pada kedua kelas. Pada kelas yang diajarkan dengan pembelajaran hypnoteaching para siswanya lebih merasa happy dibanding dengan pada kelas eksperimen Contextual Teaching and Learning.. Pada kelas yang diajarkan dengan teknik Hypnoteaching, sebelum memulai memasuki pelajaran, terlebih dahulu siswa diajak untuk relaks dengan memberi motivasi dan kata – kata positif kepada siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa merasa nyaman dan berada dalam keadaan sugestif yang siap belajar (mudah menerima saran, masukan, informasi dan pengetahuan) yang menurunkan gelombang otak dari beta ke alpha dimana materi pelajaran dapat dengan mudah masuk ke dalam pikiran bawah sadar siswa yang akan mengoptimalkan daya serap, daya ingat selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam kegiatan pembelajaran guru lebih banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa dalam memahami materi. Memberikan contoh nyata yang menarik yang sering dialami oleh siswa agar siswa tetap fokus dan merasa tertarik untuk mempelajarinya. Dengan analogi contoh tersebut guru berusaha membangkitkan rasa keingintahuan siswa untuk mencari penyelesaian dari contoh yang diberikan. Guru memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk memberikan tanggapannnya. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru menggunakan kata – kata positif berupa sugesti kepada siswa yang dapat menjadikan siswa menjadi lebih percaya diri. Secara otomatis, hal itu memacu setiap siswa untuk memberikan tanggapan/pertanyaannya, ini akan memicu memorinya untuk memanggil informasi ke dalam memori pikirannya. Agar siswa tetap fokus, selama kegiatan pembelajaran berlangsung digunakan jam emosi yang akan mengatur kondisi kelas dan juga pemberian reward dan penalty berupa pin kertas dengan ekspresi senyum dan sedih yang akan direkatkan pada seragam siswa agar terlihat oleh siswa yang lainnya dan akan dihitung pada akhir pembelajaran. Reward diberikan kepada siswa yang dapat memberikan tanggapan dan menjawab soal/pertanyaan dari guru dan pada Lembar Kerja Siswa. Penalty diberikan kepada siswa yang ribut, mengganggu temannya, dan tidak memperhatikan penjelasan guru. Jadi pemberian reward dan penalty  ini akan mendorong siswa untuk memperhatikan dan menanggapi penjelasan guru. Siswa akan berusaha dan berlomba - lomba untuk memberikan tanggapan dan menjawab pertanyaan agar  mendapat reward terbanyak dan akan merasa malu bila mendapat penalty. Sehingga siswa aktif dan kegiatan pembelajaran berlangsung lebih optimal dan lebih hidup.
Sementara di kelas yang diajarkan menggunakan metode pembelajaran Contextual Teaching and Learning, diawali dengan pertanyaan-pertanyan tentang  materi yang sedang diajarkan guna untuk memotivasi siswa, disamping itu pertanyaan-pertanyaan ini berguna untuk menungkatkan rasa ingin tahuan siswa. Dibantu dengan media pembelajaran berupa gambar-gambar pendukung materi misalnya potongan kue. Gambar-gambar ini bertujuan untuk mengurangi keabstrakkan siswa tentang materi pecahan. Kemudian siswa melakukan diskusi (bekerja dalam kelompok), siswa dilatih untuk berkerja sama dan bertanggung jawab terhadap tugas mereka dengan menampilkan jawaban atau mempresentasekan jawaban kelompok. Dalam diskusi siswa bersama teman seusianya diharapkan siswa dapat mengkontrus sendiri pemahamannya tentang konsep pecahan. Selanjutnya guru membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep pecahan, guru meluruskan pemahaman-pemahaman yang salah dan mengarahkan siswa agar siswa dapat mencapai tujuan belajar karena di kelas Contextual Teaching and Learning guru sebagai fasilitator dan mengatur dan mengawasi jalannya proses pembelajaran berbeda dengan fungsi guru di kelas hypnoteaching selain sebagai fasilitator guru juga sebagai motivator bagi siswa.  Kelemahan dari model ini adalah membutuhkan waktu yang lama agar siswa benar-benar dapat memahami materi yang sedang mereka pelajari. Selain itu siswa yang pemalu dan pendiam tidak terlalu aktiv dalam pembelajaran.
Meskipun demikian, baik hypnoteaching maupun Contextual Teaching and Learning ternyata sama-sama dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika di kedua kelas tersebut pada materi peacahan. Dari rata-rata hasil belajar dan pengujian beda rata-rata terbukti bahwa siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran hypnoteaching memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning.

 
 

IV. Kesimpulan Dan Saran
1.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari analisis data diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu Pemecahan masalah matematika siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan yang diajar menggunakan pembelajaran hypnoteaching dan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning memiliki nilai rata-rata 79,836 dan 74,249. Secara statistik dengan menggunakan uji-t disimpulkan bahwa  ada perbedaan kemampuan pemecahan masalah siswa yang diajar dengan menggunakan hypnoteaching dengan kemampuan pemecahan masalah siswa yang diajar menggunakan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning.

2.      Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang dapat peneliti berikan adalah:
1.            Kepada guru matematika dapat menjadikan metode pembelajaran hypnoteaching sebagai pilihan pertama daripada pendekatan pembelajaran Contextual Teaching ang Learning sebagai salah satu alternatif dalam memilih model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.
2.            Kepada guru matematika yang ingin menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning sebaiknya dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
3.            Kepada calon peneliti berikutnya agar mengadakan penelitian yang sama dengan materi ataupun tingkatan kelas yang berbeda sehingga hasil penelitian dapat berguna bagi kemajuan pendidikan khususnya pendidikan matematika.


 
58
 
DAFTAR PUSTAKA
Astuti, Tri.2011.Pebandingan Metode Pembelajaran Konvensional dengan metode pembelajaran hypnoteaching.tersedia : http://mediasugesti. blogspot.com/2008/11/hypnoteaching-2.html
Aunurrahman.2009.Belajar dan Pembelajaran.Bandung:Alfabeta
Dewi, Kania Islami dan M Mega.2009.Aplikasi NLP dalam Pembelajaran.Bogor: CV Regina.
Dewiyani.2011.Mengajarkan Pemecahan Masalah Dengan Menggunakan Langkah Polya.Tersedia: http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/ 122088796.pdf
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zaim.2006.Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Rineka Cipta
Hadi.2008.Kenda-kendala yang Dihadapi Sekolah.Bandung. Tersedia : http://www.sman1-labakkang.com
Hakim, Andri.2010.Hypnosis In Teaching Cara Dahsyat Mendidik dan Mengajar.Jakarta:Visimedia.
Hamalik, Oemar.2010.Proses Belajar Mengajar.Jakarta:Bumi Aksara.
Hamid K, Abdul.2009.Teori Belajar dan Pembelajaran.Medan: Pascasarjana Universitas Negeri Medan.
http://digilib.unnes.ac.id
Jaya, Novian Triwidia.2010.Hypnoteaching Bukan Sekedar Mengajar.Bekasi: D-Brain
Kemendiknas.2008. Sekolah Rusak dan Gedung Mewah DPR.jakarta tersedia : http://bataviase.co.id/node/627085
Muslich, Masnur.2008.KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Malang: Bumi Aksara.
Nadirin, Arif Luqman.2010.Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning.Jakarta. Tersedia : http://nadhirin.blogspot.com/2010/03/ model - pembelajaran -contextual-teaching.
Nebraska  danLoretta Ohnemus Omaha.2010.Journal writing to Learn problem solving. Lincoln:Department of Mathematics University of Nebraska
Nuharini, Dewi dan Tri Wahyuni.2008.Matematika Konsep dan Aplikasi untuk kelas VII SMP dan MTs Jakarta: Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional
Pranoto, Edy.2011. Meningkatkan hasil belajar siswa Sub pokok bahasan operasi bilangan pecahan Dengan menggunakan kartu pecahan pada Siswa kelas III Mi Miftahul Huda desa Jatisono Kecamatan gajah kabupaten Demak Tahun ajaran 2004/ 2005.Universitas Negeri Semarang
Saleh Andri.2009.Seni Mengajarkan Matematika Berbasis Kecerdasan Majemuk. Bogor: Regina.
Sanjaya, Wina.2008.Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.Jakarta: Prenada Media Group.
Santoso, Haris Budi.2011.jurnal : Menciptakan Daya Magnetis Widyaiswara Dengan Pembelajaran Hypnoteaching.Denpasar: Kementrian Agama Denpasar.
Shadiq, Fajar.2004.Pemecahan Masalah, Penalaran dan Komunikasi.Yogyakarta tersedia : http://p4tkmatematika.org/downloads/sma/pemecahanmasalah. pdf
Sie, Su dan Suse Herleni.2008.Pengaruh Aktivitas Jasmani Terhadap Kemampuan Matematika Anak. Tersedia : http//www.carisuster.com/artikel/7-inspired-kids/37-pengaruh-aktivitas-jasmani-terhadap-kemampuan-kemampuan-matamatika-anak
Situmorang, Manihar.2009. Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi Mahasiswa Program Studi Pendidikan FMIPA UNIMED.Medan:FMIPA UNIMED
Supradiarini, Irene dkk.2008.Pegangan Belajar Matematika untuk SMP/MTs Kelas VII 1.Jakarta: Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional
Suyadi.2010.Panduan Penelitian Tindakan Kelas.Jogjakarta: DIVA Press
Trianto.2008.Mendesain Pemebelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) di Kelas.Jakarta:Cerdas Pustaka Publisher.
Turmudi.2008.Landasan Filsafat dan Teori Pembelajaran Matematika.Jakarta: Leuser Cita Pustaka.
Uno, Hamzah B.2010.Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang kreatif dan efektif.Jakarta: Bumi Aksara
Wardhani, Sri.2011. Bagaimana Mengelolah Pembelajaran Pemecahan Masalah (problem solving) Matematika.tersedia: http://docs.google.com/viewer? url=https%3A%2F%2Fdocs.google.com%2Fuc%3Fexport%3Ddownload%26id%3D0B4YIxzzEvxGYTI3MDA3NzktNzI5Yi00M2I3LThlODUtOWEyZDNjYTU5OGUz
Wintarti, Atik, dkk.2008.Contextual Teaching and Learning Matematika Sekolah Menengah Pertama Kelas VII Edisi4 Jakarta: Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Yoni, Acep dan Sri Rahayu Yunus.2011.Begini Cara Menjadi Guru Inspiratif dan Disenangi Siswa.Yogyakarta:Pustaka Widyatama.
Yus, Anita, dkk. 2010. Psikologi Pendidikan.Medan:Fakultas Ilmu Pendidikan UNIMED.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar